SEJARAH - KSS3G Temanggung
Keluarga Studi Sastra 3 Gunung

Breaking

Home Top Ad

Selamat Datang di KSS3G Temanggung

SEJARAH



Bermula dari kebangkitan semangat penyair-penyair muda yang bermunculan dari berbagai pelosok desa Temanggung. Dengan ramah mereka menyapa kami “angkatan” tua. Terhimpunlah sebuah komunitas yang menamakan diri Keluarga Studi Sastra Tiga Gunung (KSS3G).

Bagi penyair, apalah artinya sebuah nama. Namun mereka sepakat berangkat dari semangat belajar, belajar, dan belajar sekaligus mencoba berupaya ikut andil mengangkat nama daerah dari dimensi kesastraan agar tidak tenggelam dan mampu menyeimbang dengan daerah-daerah lain di seluruh Nusantara yang kian marak bergulat dalam dunia sastra.

Sementara tiga gunung yang dimaksud adalah Sumbing, Sindoro, dan Prahu. Para penulis yang tergabung dalam KSS3G meyakini ketiga gunung yang membentang dari ujung selatan sampai utara Temanggung itu memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat. Dari sudut pandang ekologi, ekonomi, dan tentu budaya, gunung menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi para kreator.

Sebagai pangejawantahan semangat, dengan segala keterbatasannya sejumlah penyair KSS3G mencoba menerbitkan sebuah antologi puisi. Di luar dugaan, gagasan kecil tersebut terendus dan mendapat sambutan hangat para penyair kondang dari berbagai kota di Tanah Air. Di antaranya dari Jakarta, Yogyakarta, Medan, dan dari berbagai kota di  JawaTengah sendiri.

Tentu saja temanya menjadi beragam dari konsep semula ingin mengangkat kearifan lokal mengeksplorasi pelik-pelik estetika Temanggung. Kendati begitu keragaman itu tidaklah merontokan harmoni estetika kearifan lokal. Nuansa kearifan lokal masih cukup kental. Bahkan beberapa penyair ”tamu” ada juga yang lebih apik memotret kehidupan dan ekologi Temanggung tercipta dalam sajak-sajak mereka.

Tentang antologi itu sendiri kami pilih judul ”PROGO 3”. Yaitu sebagai lanjutan ”episode” antologi yang pernah diterbitkan oleh “angkatan” sebelumnya ”Progo 1” (1993), ”Progo 2” (1998). Kata Progo itu sendiri diangkat dari nama Sungai Progo yang mata airnya tersembul dari Lereng Gunung Sindoro dan bermuara di Laut Selatan setelah melintasi wilayah Temanggung, Magelang, dan Yogyakarta.

Menurut berbagai literatur, Sungai (Kali) Progo menjadi saksi bisu sejarah perjuangan rakyat Temanggung dalam Perang Kemerdekaan (1948-1949). Tidak kurang dari 1.500 jiwa pejuang gugur dibantai di atas jembatan Kali Progo Kranggan-Temanggung oleh serdadu Kolonial Belanda dan antek-anteknya. Terinspirasi dari peristiwa berdarah itulah, sejumlah puisi tercipta dan kami mengabadikannya menjadi judul antologi.

Peluncuran Antologi Puisi ”PROGO 3” ini menandai hari kebangkitan Angkatan Muda Sastrawan Temanggung dengan dideklarasikannya KSS3G. Sementara markas tempat berhimpun di Jl. Raya Temanggung-Parakan Dusun Nglarangan Candimulyo Kedu RT 02 RW 4 Temanggung. Harapan kemudian akan lahir penyair, cerpenis, novelis, serta esais besar yang karya-karyanya mendunia. Semoga.


Dari Sekapur Sirih Progo 3 oleh Roso Titi Sarkoro
test banner
SALAM SASTRA

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here