Pengantar
Bupati Temanggung
Untuk
mewujudkan masyarakat religius, sejahtera, dan berbudaya secara adil dan
merata, kiranya tidak cukup hanya mengedepankan pembangunan fisik berupa
infrastruktur saja. Tetapi harus dilandasi pembangunan mental spritual. Yaitu
dengan penguatan keyakinan beragama dan menghayati nilai-nilai seni melalui
jalur budaya. Salah satunya, penting
juga bagi setiap insan manusia untuk mengapresiasi—mengenal, memahami,
mencintai, dan menghargai—karya sastra, tidak terkecuali yang berbentuk
sajak-sajak atau puisi.
Menurut
saya, puisi sebagai karya seni (sastra) memang memiliki keunikan tersendiri. Ia
tidak sekadar menyampaikan informasi secara literal. Lebih dari itu puisi mampu
menyentuh nilai rasa terdalam bagi pembacanya. Meski terkadang ada yang “nakal”
secara satire menghunjamkan kritik menggelitik, namun tidak menyakitkan. Juga
tidak sedikit puisi yang menyentuh intuisi menyadarkan hati terdalam agar
menjadi insan yang arif bijaksana.
Oleh
karena itu, saya menyambut baik atas terbitnya buku Kumpulan Puisi “PROGO 3”
ini sebagai karya kreatif sejumlah penyair Temanggung, juga penyair ”tamu” dari
berbagai daerah lain.Tentu saya atas nama Pemerintah Daerah maupun pribadi,
menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua
penyair yang melalui puisi-puisinya telah membantu kami di bidang pembangunan
budaya demi mewujudkan manusia seutuhnya. Kami merasa banyak terbantu dengan
dilukiskannya kondisi alam dan kehidupan masyarakat Temanggung dalam bentuk
puisi-puisi yang unik dan estetis (indah). Ini berarti melalui karya cipta
puisi-puisi tersebut :
(1). Temanggung dipublikasikan
dan dipopulerkan melalui karya seni ke berbagai penjuru.
(3). Memperkaya literatur tentang Temanggung.
Selamat
bagi para penyair, dengan harapan terus menulis dan menulis, serta semakin
kreatif. Sebagai ungkapan apresiasi dan atensi saya terhadap para penyair dan
karya sastra (puisi), saya menulis begini:
Temanggung Rumahku Surgaku
surgaku terhampar indah di lereng
dan lembah
rumah-rumah tersusun di punggung
gunung
sawah, ladang, kebun, dan hutan
melimpah berkah
anak-anaku menunduk rukuk
mengerling sunyi
menyatukan hati, membajakan tekad,
menyalakan semangat
melambungkan Temanggung setinggi
gunung
mewarna dengan beribu cahaya
pada segala bilik dinding-dinding
nurani berserah diri
pada-Mu yang menganugerahi
rumahku dan surgaku