
Sumber gambar: https://www.imgrum.pw/
Jerit Malam di Jumprit
S
|
emburat matahari tampak indah menawan hati. Lapangan
luas dengan hamparan pepohonan yang rindang menghiasinya. Hijau pepohonan
yang banyak dengan alunan kabut membuat udara di sekolah terasa sejuk dan
segar. Kesejukan menjadikan
orang yang berada di tempat itu ingin melayang membidik masa depan dengan penuh
semangat.
Upacara
bendera baru saja usai. Tiba-tiba ada pengumuman lewat pengeras suara kelas.
Kak Erma ternyata yang memberi pengumuman. Nanti setelah pelajaran berakhir, siswa-siswa kelas VIII yang mengikuti ekstrakurikuler Pramuka untuk berkumpul
di depan Perpustakaan.
Selesai
pelajaran, Santi dan Sandra bergegas ke Perpustakaan.
“Kira-kira,
ada apa ya San,” sambil berjalan menuju Perpustakaan. Santi dan Sandra
kebetulan mereka satu kelas dan sama-sama ikut ekstrakurikuler Pramuka sejak
kelas VII. Belum sempat menjawab pertanyaan Santi, keburu mereka berbaur dengan siswa-siswa lainnya.
“Hei semuanya. Ada pengumuman penting!” ujar
kak Erma Zuliastuti, koordinator Pembina Pramuka di sekolah.
”Wah, ada apa, ya? Kayaknya penting
sekali,” ujar semuanya. Kebanyakan
dari mereka pada ribut ingin tahu apa pengumumannya. Akhirnya kak Erma menjawab
pertanyaan mereka,
”Besok hari sabtu, kita akan kemah
di hutan lereng Sindoro. Tepatnya di Wana atau hutan Jumprit,” dengan raut
gembira, mereka bersorak senang.
“Untuk
kegiatan itu, kalian harus membuat regu beranggotakan sepuluh orang,” ujar kak
Erma.
Akhirnya
semua pun membuat regu. Tapi Santi dan Sandra belum membuat regu karena jumlah anggota
belum cukup. Masih kurang dua orang. Mereka pun kemudian mengumumkan siapa yang
belum dapat regu. Ternyata di sisi barisan lain ada dua siswa yang mengangkat
tangan, dia adalah Sela dan Sherli. Dua siswa ini dari kelas lain, dan bukan
satu kelas dengan Santi dan Sandra.
Melihat
Sela dan Sherli mengangkat tangan dan jadi satu regu, Santi dan Sandra justru
terlihat menunduk. Sesekali, Santi dan Sandra saling berpandangan.
Kelihatannya, kedua siswa ini belum sreg
jika jadi satu regu dengan teman kelas lain itu. Mereka teringat dengan cerita
teman-teman kalau Sela dan Sherli orangnya cerewet dan aneh. Begitu,
teman-teman menyebut keduanya. Sela itu cerewet banget, sementara Sherli kayak
orang bule dan pendiam. Ea memang, rambutnya panjang dan berwarna sedikit
merah. Konon Sherli ini rambutnya palsu karena dari ceritanya ia pernah sakit
kanker hingga rambutnya rontok semua. Namun, akhirnya mereka berempat pun jadi
satu regu dan membagi tugas masing-masing.
Pada
hari yang ditentukan, mereka pun ke sekolah dengan membawa tas berisi baju dan
perbekalan untuk kemah. Sebelum berangkat mereka diabsen dan dikelompokkan agar
tertib ketika naik kendaraan truk. Tepat pukul 15.30 WIB, rombongan pun
berjalan menuju ke Wana Bakti yang sering dijuluki hutan Jumprit, yang terletak
di desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Perjalanan ke hutan Jumprit cukup lama,
kurang lebih satu setengah jam. Sebenarnya tidak jauh dari sekolah, hanya saja
jalan ke sana sangat terjal dan belak-belok. Sesampai di hutan Jumprit mereka
jalan ke suatu tempat yang cukup datar dan luas. Di situlah mereka membangun
tenda. Tak terasa, matahari sudah tenggelam. Mereka pun bergegas mendirikan
tenda dan mempersiapkan untuk kegiatan malam.
*
Angin berhembus menyusuri sela-sela pohon
besar di lereng gunung Sindoro. Dinginnya atmosfir di relung hati membaur
dengan aroma napas. Semakin ke dalam hutan, semakin terasakan himpitan mesra pepohonan
raksasa. Tidak banyak yang tahu tempat yang memukau ini. Karena oleh masyarakat
sekitar, banyak dihubungkan dengan hal mistik, padahal tidak demikian. Di hutan
Jumprit itu ada umbul atau mata air abadi yang dijadikan sebagai tempat suci
bagi umat Budha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di
Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul Jumprit tersebut.
Setelah makan malam dan istirahat
secukupnya, peserta kemah pun dikumpulkan untuk upacara pembukaan.
“Upacara pembukaan dibuat sederhana
karena sarana di sini sangat terbatas,” tutur kak Ranto.
“Yang penting, para siswa segera
tidur dan mempersiapkan kegiatan penjelajahan nanti malam,” tambahnya.
Siswapun bubar masuk ke tenda
masing-masing. Santi, Sandra, Sela dan Sherli bergegas ke tenda.
Sesampai di tenda Sherli berkata, “Tadi senter sudah dimasukkan
tas.”
“Saya ingat banget kok,” Sherli menambahkan lagi untuk
meyakinkan teman-temannya. Dari tadi mereka mempersoalkan senter milik Sherli yang
belum ditemukan, padahal dia merasa membawanya. Di antara mereka sempat
bertengkar, tapi akhirnya kembali sunyi karena semua sudah tertidur pulas.
Tiba-tiba ada seseorang yang
membangunkan mereka semua. Ternyata orang tersebut adalah kakak pembina. Saat
dilihat ternyata jam menunjukkan pukul 23.47 WIB.
“Waduh, malam banget”, celetuk Sherli
dengan nada memelas. Tidak lama, semua siswa pun sudah berkumpul lengkap.
“Kita
akan memulai penjelajahan”, tutur kak Ranto.
Kak
Ranto terus menjelaskan rute serta hal-hal yang harus dilakukan setiap regu
maupun peserta lain dalam kegiatan penjelajahan.
Penjelajahan
di hutan Jumprit di mulai berbagai sifat dari masing-masing anggota mulai
ketahuan . Santi, walaupun pintar karate, ternyata dia anak yang manja. Akhirnya
mereka pun menjelajah dengan melihat petunjuk yang dibagikan sebelum kegiatan
dimulai.
“Yang
bertugas melihat penunjuk Sandra, yang bertugas memotong semak-semak yang ada
di depan jalan Santi, sedangkan yang membawa senter Sela”, teriak Sherli. Hanya
ada satu sumber cahaya dari senter milik Sela, karena senter milik Sherli
hilang entah ke mana.
“Sel,
nyenternya jangan lama-lama ya, biar hemat listrik,” celetuk Santi. Mereka
pun terus berjalan menyusuri jalanan kecil di bawah pohon-pohon yang rindang.
Satu persatu pos penjelajahan telah dilalui.
Malam
semakin larut, bahkan sudah memasuki dini hari hingga kantukpun tidak dapat
ditahan. Sandra, yang bertugas membaca petunjuk berjalan terkantuk-kantuk
sehingga tidak fokus, akibatnya semua salah jalan. Mereka baru menyadarinya
saat Santi, berkata, ”Loh, kok tidak ada petunjuk lagi?”
Setelah
berjam-jam menyusuri jalan, mereka kian cemas karena pepohonan kian besar-besar, tidak ada lagi jalan setapak
seperti yang telah dilalui tadi. Akhirnya mereka berhenti melihat sekelilingnya
gelap dan mengerikan. Suara binatang buas, memcah keheningan malam. Sherli berteriak
minta tolong sambil menangis. Santi dan Sandra tetap tenang dan terus menghibur
Sherli, demikian juga Sela. Walaupun takut berusaha menghibur Sherli.
“Sudah,
santai saja Sherli. Kan ada
kita-kita”, sahut Sela sambil memegang tangan Sherli yang mulai dingin.
Kepanikan
regu itu, membuat mereka sepakat menggunakan sandi morse, tetapi tetap tidak
ada yang datang. Rupanya tempat itu sangat jauh dari perkemahan. Tiba-tiba, lampu senterpun padam.
“Sela,
ayo disenter!” bentak Santi dengan
nada tinggi.
Kontan
Sela menjawab, “Iya, saya sedang menyalakannya tapi tidak bisa, “ sambil
memukul-mukul senter di tangannya.
“Waduh, celaka nich. Jangan-jangan baterainya habis,” tutur Sela.
“Heh, gimana sih, Sel?” Santi tampak kesal sambil berusaha memegang senter.
Santi bermaksud membantu, tetapi karena Sela kaget. Braakk!! Senter pun terjatuh dan tidak diketemukan karena sangat
gelap. Padahal itu satu-satunya senter milik regu mereka.
Suasana
hening. Beberapa saat kemudian, Sela berkata, “Maksudnya apa sih, San? Kok kasar banget.”
“Tuh, akibatnya senter jadi hilang, lalu babaimana kita bisa jalan?”
”Ini
semua gara-gara Santi nih!” dengan
lantangnya menunjuk-nunjuk Santi.
”Loh, kok
saya?” ujar Santi.
“Seenaknya
saja menuduh orang dengan alasan yang tidak jelas.”
Dasar
kebiasaan, jika salah mesti menuduh orang lain!” dengan melotot walau tidak
terlihat karena gelap.
“Salah
saya apa? Yang menjatuhkan kamu kan Sel?”
Melihat temannya bertengkar, Sherli tidak melerai tapi malah menangis dan
menjerit sekuat tenaga. Bukan hanya Sherli, Sandra pun ikutan menangis. Ia ketakutan
sambil mengibas-ngibaskan kakinya karena ada sesuatu. Demikian juga, anggota
yang lain ikutan menangis ketakutan dan memanggil pembina minta tolong.
“Kak
Ranto, tolong-tolong!” teriak anggota regu lainnya.
Rupanya, mereka telah tersesat jauh
sehingga kakak pembina dan regu lainnya tidak mendengar teriakn mereka. Di
tengah suasana kacau hingga tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba terdengar suara
sreeeett buukkk.
Sejenak mereka terdiam. Tiba-tiba, ada
suara minta tolooong dari dasar jurang. Ternyata, Santi jatuh ke jurang dan
minta tolong. Tangispun kembali pecah. Semua menangis saling bersahutan.
Merekapun saling berpegangan dan mendekap erat.
“Santi-santi,
gimana Santi?” teriak Sherli.
Tapi
suara Santi sudah tak terdengar lagi. Ternyata, Santi telah pingsan. Beberapa
saat kemudian, Sela yang sejak tadi hanya bengong
melihat teman-temannya menangis ketakutan, kemudian mereka berusaha menenangkan
teman-temannya.
“Sandra, Sherli dan teman-teman, coba
dengarkan sebentar” tutur Sela.
Sela kemudian berbicara pada
temannya agar mereka tetap diam dan berpikir jernih. Hasil rembugan, mereka
sepakat untuk tetap diam di tempat menunggu hingga pagi.
*
Matahari
yang masih terselimuti embun pagi membuat suasana semakin dingin. Burung-burung terbangun dari tidurnya dan bersiul indah sambil
mengepakkan sayap-sayap mungilnya menimbulkan gairah. Semangat baru yang
tercipta dalam tubuh seakan-akan darah mengalir cepat dengan membawa zat-zat
positif yang di alirkan ke setiap organ dalam seluruh tubuh.
“Santi,
Sela, Sandraaa.., dimana kau?”, teriak kak Ranto. Teriakan pembina itu membangunkan mereka
semua. Melihat ada rombongan menghampiri, mereka pun berhamburan. Tangis pecah
kembali. Dengan terisak, Sela menceritakan kejadian semalam. Mendengar cerita
Sela, rombongan pun langsung menuju tempat dimana Santi jatuh semalam. Puji
Tuhan, Santi dapat ditemukan dan tidak ada luka yang mengkhawatirkan. Kegembiraanpun
terlihat di raut wajah pramuka ini.
ooOoo
SEKILAS
PENULIS
FA.
Suprapto Mukti Nugroho, biasa dipanggil prapto merupakan anak ke-5 dari 7
bersaudara pasangan suami istri Titus Soegijo (Alm) dan Dorothea Rubiati. Pendidikan
SD hingga SMA diselesaikannya di kota Purworejo-Jawa Tengah, kemudian
melanjutkan pendidikan ke IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri
Yogyakarta). Pada tahun 1994, diangkat menjadi pegawai negeri sipil yang
ditempatkan di SMP Negeri 6 Temanggung hingga sekarang. Atas kesetiannya dalam
dunia penelitian, yang bersangkutan melanjutkan pendidikan di Pascasarjana
Universitas Sarjanawiyata, Tamansiswa Yogyakarta pada prodi Penelitian dan
Evaluasi Pendidikan (PEP) dan lulus tahun 2012.
Selama
kurun waktu 20 tahun menjadi guru, banyak karya penelitian berupa PTK dan
artikel ilmiah yang telah dipublikasikan dalam seminar nasional diberbagai
perguruan tinggi dan jurnal ilmiah. Atas prestasinya itu, pada tahun 2016 yang
bersangkutan menjadi juara I lomba inovasi pembelajaran tingkat nasional bidang
MIPA, yang menghantarkannya mendapat penghargaan dari Kemendikbud untuk
mengikuti kursus singkat ke negeri bawah laut, Netherland - Belanda. Cerpen ini
merupakan karya cerpen perdana dan berharap dapat turut serta mensukseskan
gerakan literasi nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar