Jerit Malam di Jumprit; Cerpen FA Suprapto - KSS3G Temanggung
Keluarga Studi Sastra 3 Gunung

Breaking

Home Top Ad

Selamat Datang di KSS3G Temanggung

Selasa, 11 September 2018

Jerit Malam di Jumprit; Cerpen FA Suprapto



Hasil gambar untuk jumprit malam
Sumber gambar: https://www.imgrum.pw/

Jerit Malam di Jumprit


S
emburat matahari tampak indah menawan hati. Lapangan luas dengan hamparan pepohonan yang rindang menghiasinya. Hijau pepohonan yang banyak dengan alunan kabut membuat udara di sekolah terasa sejuk dan segar. Kesejukan menjadikan orang yang berada di tempat itu ingin melayang membidik masa depan dengan penuh semangat.
       Upacara bendera baru saja usai. Tiba-tiba ada pengumuman lewat pengeras suara kelas. Kak Erma ternyata yang memberi pengumuman. Nanti setelah pelajaran berakhir, siswa-siswa kelas VIII yang mengikuti ekstrakurikuler Pramuka untuk berkumpul di depan Perpustakaan.
            Selesai pelajaran, Santi dan Sandra bergegas ke Perpustakaan.
           “Kira-kira, ada apa ya San,” sambil berjalan menuju Perpustakaan. Santi dan Sandra kebetulan mereka satu kelas dan sama-sama ikut ekstrakurikuler Pramuka sejak kelas VII. Belum sempat menjawab pertanyaan Santi, keburu mereka berbaur dengan siswa-siswa lainnya.
          Hei semuanya. Ada pengumuman penting!” ujar kak Erma Zuliastuti, koordinator Pembina Pramuka di sekolah.
        Wah, ada apa, ya? Kayaknya penting sekali,” ujar semuanya. Kebanyakan dari mereka pada ribut ingin tahu apa pengumumannya. Akhirnya kak Erma menjawab pertanyaan mereka,
”Besok hari sabtu, kita akan kemah di hutan lereng Sindoro. Tepatnya di Wana atau hutan Jumprit,” dengan raut gembira, mereka bersorak senang.
          “Untuk kegiatan itu, kalian harus membuat regu beranggotakan sepuluh orang,” ujar kak Erma.
       Akhirnya semua pun membuat regu. Tapi Santi dan Sandra belum membuat regu karena jumlah anggota belum cukup. Masih kurang dua orang. Mereka pun kemudian mengumumkan siapa yang belum dapat regu. Ternyata di sisi barisan lain ada dua siswa yang mengangkat tangan, dia adalah Sela dan Sherli. Dua siswa ini dari kelas lain, dan bukan satu kelas dengan Santi dan Sandra.
          Melihat Sela dan Sherli mengangkat tangan dan jadi satu regu, Santi dan Sandra justru terlihat menunduk. Sesekali, Santi dan Sandra saling berpandangan. Kelihatannya, kedua siswa ini belum sreg jika jadi satu regu dengan teman kelas lain itu. Mereka teringat dengan cerita teman-teman kalau Sela dan Sherli orangnya cerewet dan aneh. Begitu, teman-teman menyebut keduanya. Sela itu cerewet banget, sementara Sherli kayak orang bule dan pendiam. Ea memang, rambutnya panjang dan berwarna sedikit merah. Konon Sherli ini rambutnya palsu karena dari ceritanya ia pernah sakit kanker hingga rambutnya rontok semua. Namun, akhirnya mereka berempat pun jadi satu regu dan membagi tugas masing-masing.
            Pada hari yang ditentukan, mereka pun ke sekolah dengan membawa tas berisi baju dan perbekalan untuk kemah. Sebelum berangkat mereka diabsen dan dikelompokkan agar tertib ketika naik kendaraan truk. Tepat pukul 15.30 WIB, rombongan pun berjalan menuju ke Wana Bakti yang sering dijuluki hutan Jumprit, yang terletak di desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Perjalanan ke hutan Jumprit cukup lama, kurang lebih satu setengah jam. Sebenarnya tidak jauh dari sekolah, hanya saja jalan ke sana sangat terjal dan belak-belok. Sesampai di hutan Jumprit mereka jalan ke suatu tempat yang cukup datar dan luas. Di situlah mereka membangun tenda. Tak terasa, matahari sudah tenggelam. Mereka pun bergegas mendirikan tenda dan mempersiapkan untuk kegiatan malam.
*
            Angin berhembus menyusuri sela-sela pohon besar di lereng gunung Sindoro. Dinginnya atmosfir di relung hati membaur dengan aroma napas. Semakin ke dalam hutan, semakin terasakan himpitan mesra pepohonan raksasa. Tidak banyak yang tahu tempat yang memukau ini. Karena oleh masyarakat sekitar, banyak dihubungkan dengan hal mistik, padahal tidak demikian. Di hutan Jumprit itu ada umbul atau mata air abadi yang dijadikan sebagai tempat suci bagi umat Budha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul Jumprit tersebut.
            Setelah makan malam dan istirahat secukupnya, peserta kemah pun dikumpulkan untuk upacara pembukaan.
            “Upacara pembukaan dibuat sederhana karena sarana di sini sangat terbatas,” tutur kak Ranto.
            “Yang penting, para siswa segera tidur dan mempersiapkan kegiatan penjelajahan nanti malam,” tambahnya.
            Siswapun bubar masuk ke tenda masing-masing. Santi, Sandra, Sela dan Sherli bergegas ke tenda.
Sesampai di tenda Sherli berkata, “Tadi senter sudah dimasukkan tas.”
            “Saya ingat banget kok,” Sherli menambahkan lagi untuk meyakinkan teman-temannya. Dari tadi mereka mempersoalkan senter milik Sherli yang belum ditemukan, padahal dia merasa membawanya. Di antara mereka sempat bertengkar, tapi akhirnya kembali sunyi karena semua sudah tertidur pulas.
            Tiba-tiba ada seseorang yang membangunkan mereka semua. Ternyata orang tersebut adalah kakak pembina. Saat dilihat ternyata jam menunjukkan pukul 23.47 WIB.
            Waduh, malam banget”, celetuk Sherli dengan nada memelas. Tidak lama, semua siswa pun sudah berkumpul lengkap.
            “Kita akan memulai penjelajahan”, tutur kak Ranto.
            Kak Ranto terus menjelaskan rute serta hal-hal yang harus dilakukan setiap regu maupun peserta lain dalam kegiatan penjelajahan.
        Penjelajahan di hutan Jumprit di mulai berbagai sifat dari masing-masing anggota mulai ketahuan . Santi, walaupun pintar karate, ternyata dia anak yang manja. Akhirnya mereka pun menjelajah dengan melihat petunjuk yang dibagikan sebelum kegiatan dimulai.
            “Yang bertugas melihat penunjuk Sandra, yang bertugas memotong semak-semak yang ada di depan jalan Santi, sedangkan yang membawa senter Sela”, teriak Sherli. Hanya ada satu sumber cahaya dari senter milik Sela, karena senter milik Sherli hilang entah ke mana.
          “Sel, nyenternya jangan lama-lama ya, biar hemat listrik,” celetuk Santi. Mereka pun terus berjalan menyusuri jalanan kecil di bawah pohon-pohon yang rindang. Satu persatu pos penjelajahan telah dilalui.
           Malam semakin larut, bahkan sudah memasuki dini hari hingga kantukpun tidak dapat ditahan. Sandra, yang bertugas membaca petunjuk berjalan terkantuk-kantuk sehingga tidak fokus, akibatnya semua salah jalan. Mereka baru menyadarinya saat Santi, berkata, ”Loh, kok tidak ada petunjuk lagi?”
            Setelah berjam-jam menyusuri jalan, mereka kian cemas karena pepohonan kian  besar-besar, tidak ada lagi jalan setapak seperti yang telah dilalui tadi. Akhirnya mereka berhenti melihat sekelilingnya gelap dan mengerikan. Suara binatang buas, memcah keheningan malam. Sherli berteriak minta tolong sambil menangis. Santi dan Sandra tetap tenang dan terus menghibur Sherli, demikian juga Sela. Walaupun takut berusaha menghibur Sherli.
           “Sudah, santai saja Sherli. Kan ada kita-kita”, sahut Sela sambil memegang tangan Sherli yang mulai dingin.
           Kepanikan regu itu, membuat mereka sepakat menggunakan sandi morse, tetapi tetap tidak ada yang datang. Rupanya tempat itu sangat jauh dari perkemahan. Tiba-tiba, lampu senterpun padam.
            “Sela, ayo disenter!” bentak Santi dengan nada tinggi.
            Kontan Sela menjawab, “Iya, saya sedang menyalakannya tapi tidak bisa, “ sambil memukul-mukul senter di tangannya.
            Waduh, celaka nich. Jangan-jangan baterainya habis,” tutur Sela.
            Heh, gimana sih, Sel?” Santi tampak kesal sambil berusaha memegang senter. Santi bermaksud membantu, tetapi karena Sela kaget. Braakk!! Senter pun terjatuh dan tidak diketemukan karena sangat gelap. Padahal itu satu-satunya senter milik regu mereka.
            Suasana hening. Beberapa saat kemudian, Sela berkata, “Maksudnya apa sih, San? Kok kasar banget.”
            Tuh, akibatnya senter jadi hilang, lalu babaimana kita bisa jalan?”
            ”Ini semua gara-gara Santi nih!” dengan lantangnya menunjuk-nunjuk Santi.
            Loh, kok saya?” ujar Santi.
            “Seenaknya saja menuduh orang dengan alasan yang tidak jelas.”
            Dasar kebiasaan, jika salah mesti menuduh orang lain!” dengan melotot walau tidak terlihat karena gelap.
            “Salah saya apa? Yang menjatuhkan kamu kan Sel?” Melihat temannya bertengkar, Sherli tidak melerai tapi malah menangis dan menjerit sekuat tenaga. Bukan hanya Sherli, Sandra pun ikutan menangis. Ia ketakutan sambil mengibas-ngibaskan kakinya karena ada sesuatu. Demikian juga, anggota yang lain ikutan menangis ketakutan dan memanggil pembina minta tolong.
          “Kak Ranto, tolong-tolong!” teriak anggota regu lainnya.
Rupanya, mereka telah tersesat jauh sehingga kakak pembina dan regu lainnya tidak mendengar teriakn mereka. Di tengah suasana kacau hingga tidak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba terdengar suara sreeeett buukkk.
Sejenak mereka terdiam. Tiba-tiba, ada suara minta tolooong dari dasar jurang. Ternyata, Santi jatuh ke jurang dan minta tolong. Tangispun kembali pecah. Semua menangis saling bersahutan. Merekapun saling berpegangan dan mendekap erat.
            “Santi-santi, gimana Santi?” teriak Sherli.
        Tapi suara Santi sudah tak terdengar lagi. Ternyata, Santi telah pingsan. Beberapa saat kemudian, Sela yang sejak tadi hanya bengong melihat teman-temannya menangis ketakutan, kemudian mereka berusaha menenangkan teman-temannya.
“Sandra, Sherli dan teman-teman, coba dengarkan sebentar” tutur Sela.
Sela kemudian berbicara pada temannya agar mereka tetap diam dan berpikir jernih. Hasil rembugan, mereka sepakat untuk tetap diam di tempat menunggu hingga pagi.
*
          Matahari yang masih terselimuti embun pagi membuat suasana semakin dingin. Burung-burung terbangun dari tidurnya dan bersiul indah sambil mengepakkan sayap-sayap mungilnya menimbulkan gairah. Semangat baru yang tercipta dalam tubuh seakan-akan darah mengalir cepat dengan membawa zat-zat positif yang di alirkan ke setiap organ dalam seluruh tubuh.
            “Santi, Sela, Sandraaa.., dimana kau?”, teriak kak Ranto. Teriakan pembina itu membangunkan mereka semua. Melihat ada rombongan menghampiri, mereka pun berhamburan. Tangis pecah kembali. Dengan terisak, Sela menceritakan kejadian semalam. Mendengar cerita Sela, rombongan pun langsung menuju tempat dimana Santi jatuh semalam. Puji Tuhan, Santi dapat ditemukan dan tidak ada luka yang mengkhawatirkan. Kegembiraanpun terlihat di raut wajah pramuka ini.
ooOoo



SEKILAS PENULIS
            FA. Suprapto Mukti Nugroho, biasa dipanggil prapto merupakan anak ke-5 dari 7 bersaudara pasangan suami istri Titus Soegijo (Alm) dan Dorothea Rubiati. Pendidikan SD hingga SMA diselesaikannya di kota Purworejo-Jawa Tengah, kemudian melanjutkan pendidikan ke IKIP Negeri Yogyakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta). Pada tahun 1994, diangkat menjadi pegawai negeri sipil yang ditempatkan di SMP Negeri 6 Temanggung hingga sekarang. Atas kesetiannya dalam dunia penelitian, yang bersangkutan melanjutkan pendidikan di Pascasarjana Universitas Sarjanawiyata, Tamansiswa Yogyakarta pada prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP) dan lulus tahun 2012.
            Selama kurun waktu 20 tahun menjadi guru, banyak karya penelitian berupa PTK dan artikel ilmiah yang telah dipublikasikan dalam seminar nasional diberbagai perguruan tinggi dan jurnal ilmiah. Atas prestasinya itu, pada tahun 2016 yang bersangkutan menjadi juara I lomba inovasi pembelajaran tingkat nasional bidang MIPA, yang menghantarkannya mendapat penghargaan dari Kemendikbud untuk mengikuti kursus singkat ke negeri bawah laut, Netherland - Belanda. Cerpen ini merupakan karya cerpen perdana dan berharap dapat turut serta mensukseskan gerakan literasi nasional.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

test banner
SALAM SASTRA

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here